Selamat Datang di Blogger Isti

Senin, 01 Juni 2009

Kenali Gejala Orang Stres di Kantor

Tuntutan pekerjaan yang tinggi, seringkali membuat seseorang stres berat. Kondisi ini masih bisa diperparah dengan faktor lingkungan yang tidak mendukung. Misalnya ruangan kantor yang tidak nyaman, rekan-rekan kerja yang tidak saling peduli, atau bos yang streng. Makanya jangan heran kalau banyak orang stres berkeliaran di kantor Anda. Maklumi sajalah, mereka itu pada dasarnya sedang tertekan dengan kondisi yang tidak sesuai harapan.

Gejala-gejala orang stres pun mudah dideteksi, karena bisa terlihat baik secara fisik maupun psikis. Berikut ini adalah gejala dan tanda-tanda orang yang tengah stres. Nah, mau tau siapa saja orang yang tengah stres di kantor Anda? Coba simak deh gejalanya, siapa tau Anda sendiri salah satunya.

Gejala fisik
Gejala fisik ditandai dengan seringnya sakit kepala yang berlebihan, baik menyeluruh maupun sebagian (migrain). Bahkan kepala terasa mau pecah. Selain itu, terjadi ketegangan pada otot-otot leher dan punggung, sulit bernapas, wajah pucat, serta cepat merasa lelah.

Berlebihan
Di luar gejala fisik, orang-orang yang stres seringkali bereaksi berlebihan. Baik dalam ucapan, memberi komentar, saran maupun permohonan. Hal ini terjadi karena mereka berusaha mencari perhatian orang-orang di sekelilingnya.

Kurang aktif
Orang-orang stres kadang justru terlihat kurang aktif. Sebagian lagi bahkan tidak aktif sama sekali. Mereka terlihat tak bersemangat dan nggak ada gairah untuk menyelesaikan pekerjaan. Makanya orang-orang stres yang termasuk dalam kategori ini kualitas kerjanya sangat buruk. Mereka lebih suka melamun, berkhayal, dan bermalas-malasan. Jika diajak bicara responnya pun sangat lamban. Mereka enggan berbicara apalagi mengeluarkan pendapat. Lebih buruk lagi, mereka jadi sering terlambat ke kantor atau bahkan tidak datang sekalian. Pendek kata, gairah mereka nyaris hilang sama sekali.

Sangat aktif
Sebagian dari orang stres justru menjadi sangat aktif. Aktivitas mereka cenderung tak terkontrol. Mereka gemar berpindah-pindah dari satu meja rekan ke meja rekan lain. Mereka juga suka mondar-mandir ke luar ruangan dan tertawa keras-keras, meskipun tidak ada sesuatu yang lucu. Kadang, mereka terlihat sangat giat bekerja, bahkan tahan berjam-jam di depan komputer tanpa beranjak sedetik pun. Tapi jangan salah, meski terlihat aktif, mereka ini tidak produktif. Karena keaktifannya itu hanya untuk melampiaskan perasaannya yang tertekan.

Nah coba Anda perhatikan, adakah rekan kantor Anda yang mulai terkena gejala-gejala stres? Atau mungkin Anda sendiri? Namun siapapun yang terkena stres, selalu ada cara untuk mengatasinya. Jangan diam aja, cobalah menerima kenyataan dengan lapang dada. Jika hati Anda lapang, tentu ada jalan untuk bangkit dari stres dan keputusasaan.

Label:

Penting, Kebijakan Pengawasan E-mail Karyawan

Mengawasi penggunaan e-mail oleh karyawan ternyata bukan saja untuk menjamin produktivitas karyawan, melainkan juga untuk menghindari tuntutan, demikian menurut sebuah studi yang dirilis oleh American Management Association, US News and World Report, dan EPolicy Institute.

Menurut survei berjudul "Electronic Policies and Practices 2001," 10 persen responden mengaku bahwa mereka telah dipanggil menghadap sidang pengadilan karena masalah e-mail, di mana mereka harus menghadapi masalah pelecehan seksual atau diskriminasi yang berkembang dari penggunaan e-mail dan internet oleh karyawan.

Selain itu, lebih dari 68 persen dari 435 atasan yang mengikuti survei ini mengatakan bahwa tanggung jawab hukum merupakan alasan utama mereka mengawasi aktivitas online karyawannya, dan bukannya masalah produktivitas yang terganggu karena e-mail-e-mail tersebut.

Untuk memperkecil risiko yang berkaitan dengan hal ini, 86 persen responden mengatakan bahwa mereka membatasi penggunaan internet pribadi, sedangkan 81 persen lainnya mengatakan bahwa mereka memberlakukan kebijakan e-mail tertentu. Sebanyak 77 persen responden memiliki kebijakan internetnya sendiri, sedangkan 62 persen mengawasi penggunaan e-mail dan internet.

Namun, yang memprihatinkan adalah bahwa hanya 24 persen responden yang sudah memberikan pelatihan tentang kebijakan internet (e-policy), jelas Nancy Flynn, Direktur Eksekutif The Epolicy Institute. "Para atasan tersebut tidak berharap pegawainya akan taat dengan peraturan yang mereka buat sendiri," lanjut Flynn. "Mereka harus mengerti risiko yang dihadapi atasannya."

Flynn menyarankan 3 langkah untuk mengatasi masalah penggunaan internet ini. Mula-mula perusahaan harus membuat kebijakan mengenai e-mail, internet, dan software. Kedua, mereka juga harus memanfaatkan software untuk menyaring dan melaporkan aktivitas e-mail. Terakhir, pelatihan karyawan mengenai kebijakan online harus menjadi prioritas.

Label: ,

MENUMBUHKAN MOTIVASI BAWAHAN

Motivasi menjadi tema menarik yang tak habisnya di kalangan manajer perusahaan. Tentu saja ini berkaitan dengan salah satu tugas mereka untuk memotivasi bawahan agar bekerja secara optimal. Ada beberapa pertanyaan yang seringkali menggantung. Bagaimana harus memotivasi orang jika memotivasi diri sendiri belum sepenuhnya bisa dilakukan. Memotivasi karyawan memang menjadi salah satu tanggungjawab mereka karena berkaitan dengan tanggung jawabnya juga.

Bisa jadi ada manajer yang tak mampu memotivasi langsung bawahannya. Namun, jangan berkecil hati karena hal itu bukanlah akhir dari segalanya. Anda bisa menciptakan suasana kerja kondusif dengan menciptakan tantangan yang berbeda-beda. Ada banyak cara yang digunakan untuk menciptakan suasana kerja yang kondusif tersebut.

Salah satu cara adalah dengan mengurangi perputaran (turnover) karena tidak sedikit karyawan yang betah di satu tempat dalam jangka waktu yang panjang. Tentu saja ini tidak berlaku pada semua karyawan karena masing-masing individu memiliki kecenderungan yang berbeda. Mengurangi frekuensi perputaran karyawan bisa jadi menghemat waktu dan biaya. Bahkan ada anggapan perputaran karyawan yang cepat dan waktu pendek hanya membuang-buang waktu dan biaya saja.

Selain mengurangi frekuensi perputaran kerja karyawan, seorang manajer mengurangi problem yang tumbuh di lingkungan kerjanya. Pasalnya problem di lingkungan kerja acapkali berdampak menurunnya produktifitas karyawan. Kalau pun problem muncul yang perlu dilakukan seorang manajer adalah mengajak bawahan mencari akar persoalan hingga ditemukan solusi bersama.

Jika lingkungan kerja cukup kondusif, ada baiknya manajer meningkatkan standar produktifitas dan performa bawahannya dengan skala yang proporsional. Hal ini dapat diberlakukan jika manajer telah mampu menciptakan suasana kerja yang nyaman dan mendukung tercapainya target yang ditetapkan.

Yang perlu disadari adalah motivasi merupakan dorongan yang dapat muncul dari dalam diri setiap orang. Dorongan tersebut dapat memperkaya diri untuk mencapai target pribadi dan tujuan sebagai seorang profesional. Selain itu motivasi juga datang dari sisi lain yang haru ditangkap oleh seorang manajer. Sisi lain itu merupakan kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi, kecenderungan pribadi, pandangan tentang nilai.

Ada cara lain yang memungkinkan untuk menumbuhkan motivasi bawahan. Salah satunya adalah melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan secara proporsional. Dengan begitu bawaqhan akan terikat dengan sebuah komitmen keputusan yang dibuatnya. Ini menarik apalagi jika mereka diberi kesempatan training untuk meningkatkan semangat dan kemampuan kerjanya.

Seorang manajer harus menyadari bahwa memotivasi bawahan bukan dengan motivasi uang. Uang bukan segalanya. Menurut sebuah survei meningkatnya motivasi karyawan selalu berkaitan dengan apresiasi, partisipasi dalam pengambilan keputusan, merasa berada dalam satu tim, memiliki kesempatan untuk promodi, bekerja dalam lingkungan yang menyenangkan, dan bekerja pada siapa dia harus loyal.

Strategi memotivasi itu bisa jadi memiliki dua dampak yakni positif dan negatif. Motivasi positif menumbuhkan performa yang positif pula yang meliputi pemberian bonus kontan. Sedangkan motivasi yang berdampak negatif bisa berupa hilangnya privilige. Dari dua sisi itu seorang manajer bisa mengambil dua sisi tersebut untuk menentukan langkag terbaik bagaimana memotivasi karyawan.

Seorang manajer yang memiliki motivasi positif akan memperhatikan ruang kerja yang positif dan meningkatkan moral bawahan. Selain itu ia akan membantu mempromosikan sebuah tim kerja dari pada kompetisi antar pribadi dalam lingkungannya. Loyalitas bawahan ada baiknya ditujukan pada pekerjaannya.

Beberapa manajer meyakini bahwa kompetisi merupakan motivator yang baik. Tapi, yang perlu disadari adalah kompetisi bisa berarti "bahaya" yang mengancam terutama jika dilakukan dengan cara-cara yang kurang proporsional. Seorang karyawan bisa jadi tidak berkutik dalam sebuah kompetisi jika dirinya berada dalam posisi yang sama dalam pengalaman, kemampuan, atau tingkat kemampuan dengan kompetitornya. Dan tak sedikit pula yang suka dalam suasana kerja tim karena motivasi justru tumbuh saat dirinya memiliki ruang untuk berekspresi.

Label:

TINGKAT PENGANGGURAN DI AS CAPAI 5,4% PADA OKTOBER

Tingkat pengangguran di AS melonjak sampai 5,4% pada Oktober. Ini adalah kenaikan paling tinggi dalam waktu hampir lima tahun. Penyebabnya adalah banyak perusahaan memberhentikan pegawainya setelah serangan teroris pada 11 September, demikian pemberitaan situs Satunet.

Sementara perekonomian terus merosot, tingkat pengangguran pada tiap kelompok demografi juga terus naik. Sekarang mencapai 7,7 juta penganggur di seluruh AS.

Menurut pakar ekonomi Bill Cheney, yang bekerja pada perusahaan John Hancock Financial Services di Boston, sudah jelas kita sekarang sedang berada dalam keadaan resesi yang gawat.

Cheney memperkirakan 200 sampai 300 ribu orang lagi kemungkinan akan kehilangan pekerjaan dalam tiga sampai empat bulan mendatang. Sehingga tingkat pengangguran secara nasional bisa mencapai angka enam persen dalam tahun baru nanti, demikian VoA, akhir pekan lalu.

Harian Washington Post melaporkan jumlah orang yang bekerja paruh waktu, karena penciutan kegiatan perusahaan atau karena tidak bisa mendapatkan pekerjaan penuh, juga terus meningkat. Dalam waktu dua bulan terakhir ini, jumlah pekerja paruh waktu ini naik 1,1 juta orang, sehingga jumlah keseluruhannya mencapai 4,5 juta orang.

Karena kemerosotan dan stagnasi ekonomi inilah Presiden Bush dengan cepat mendorong Kongres supaya mengesahkan rancangan paket ekonominya, yang ditujukan untuk merangsang pertumbuhan kegiatan ekonomi.

Serangan teroris 11 September itu, menurut Bush, telah mempengaruhi kehidupan ratusan ribu orang. Sebab itu, katanya lagi, Kongres haruslah berusaha membantu pemerintah untuk memberikan tunjangan pengangguran kepada orang-orang yang kehilangan pekerjaan dan supaya jumlah penganggur jangan terus bertambah.

Ini berarti Kongres harus mengesahkan apa yang disebutnya sebagai rancangan undang-undang perangsang ekonomi.

Penasihat ekonomi Gedung Putih Glenn Hubbard mengatakan kalau paket perangsang ekonomi ini tidak disahkan dalam waktu dua pekan mendatang, maka perekonomian AS tidak akan tertolong ketika musim liburan dan hari-hari besar yang akan segera tiba.

Karena omset perusahaan pembuat barang-barang pada musim tersebut turun, sedangkan ongkos produksi masih sama, kemungkinan yang akan terjadi adalah penciutan kegiatan perusahaan lebih lanjut. Ini berarti lebih banyak lagi pengangguran.

Hanya beberapa bulan yang lalu, pemerintahan Presiden Bush telah memberikan pemotongan pajak bagi seluruh pekerja AS dengan maksud supaya mereka membelanjakan penghasilan ekstra itu, sehingga akan memberikan dorongan kepada roda perekonomian. Tapi karena perekonomian sudah mulai lesu sejak tahun lalu, hadiah 'pajak kembalian' yang berjumlah kira-kira 500 dolar bagi tiap keluarga itu tidak memberikan dampak berarti.

Bank Sentral AS sejak satu Januari tahun ini telah menurunkan tingkat suku bunga antarbank sebanyak sembilan kali, dalam upaya menggairahkan perekonomian. Namun belum ada hasilnya. Suku bunga antarbank ini sekarang berada pada tingkat 2,5%. Menurut harian New York Times, Bank Sentral kemungkinan akan menurunkan lagi tingkat suku bunga itu menjadi hanya dua persen pekan depan.

Secara nasional, tingkat pengangguran di antara pekerja kulit putih naik dari 4,3% menjadi 4,8%, sedangkan tingkat pengangguran pada pekerja kulit hitam naik dari 8,7% menjadi 9,7%. Pada kelompok pekerja keturunan Hispanik, tingkat pengangguran itu naik dari 6,4% sampai 7,2%.

Kalau keadaan tidak menentu seperti ini terus berlanjut, dan perang melawan teroris yang dilancarkan AS tidak memberikan hasil yang diharapkan, kemungkinan rakyat AS harus memperketat ikat pinggang mereka untuk jangka waktu yang belum diketahui.

Label: ,

Jadikan Ketidakpengalaman Sebagai Aset

Selama ini jika anda membaca iklan lowongan pekerjaan di manapun, salah satu persyaratan yang diajukan adalah 'berpengalaman di bidangnya'. Kondisi ini seringkali membuat pelamar yang belum berpengalaman 'gentar' dan 'down'. Akibatnya anda yang belum pengalaman tak jarang menjadi ragu dan malas untuk mulai mengirim surat lamaran.

Anda khawatir tidak bisa bersaing dengan mereka yang sudah berpengalaman. Belum apa-apa anda udah merasa nggak 'pede' duluan karena merasa tidak akan diterima. Perasaan semacam ini adalah "salah besar". Kalau anda membiarkan perasaan itu terus, sama saja dengan 'kalah sebelum berperang'. Meski anda tak punya pengalaman kerja, anda tak boleh pesimis. Jangan pernah surut untuk mengirimkan lamaran.

Karena orang-orang yang saat ini sukses toh tadinya juga berasal dari orang-orang yang tidak berpengalaman. Kalau semua perusahaan membutuhkan orang yang berpengalaman, lantas kapan orang yang belum berpengalaman akan mendapatkan kesempatan...?

Perlu anda ketahui bagi sebagian perusahaan justru menginginkan karyawan baru yang belum berpengalaman. Karena apa...? Karena orang yang belum memiliki pengalaman kerja satu kalipun ibarat kertas putih dan polos yang belum ternoda oleh tinta. Sehingga mudah dibentuk sesuai dengan keinginan dan tujuan perusahaan. Selain itu orang yang belum pengalaman juga tidak memiliki banyak tuntutan dan belum punya kebiasaan buruk dalam bekerja.

Bagi sebagian perusahaan kondisi ini dianggap menguntungkan. Karena perusahaan tidak perlu banyak negosiasi pada calon karyawan. Di tambah lagi orang yang belum berpengalaman umumnya mau bekerja mulai dari 'nol' dari bersedia bekerja keras.

Makanya anda yang belum punya pengalaman kerja nggak perlu minder. Sebaliknya anda malah bisa menjadikan 'ketidakpengalaman' itu sebagai aset untuk maju. Yang jelas walau tanpa pengalaman anda harus punya kemauan dan motivasi yang tinggi untuk berkarir dengan baik. So, anda yang minus atau zero pengalaman, jangan berhenti mencari kesempatan. Ingat kesempatan itu tidak akan pernah menghampiri anda jika anda sendiri tidak pernah berusaha untuk menghampirinya.

Label:

Antara Mahasiswa dan Narkoba

Judul: Antara Mahasiswa dan Narkoba
Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Hugo Warami
Topik: Kebebasan Kampus
Tanggal: 15 September 2005

Antara Mahasiswa dan Narkoba
Oleh
Hugo Warami*)

Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa pilar mahasiswalah yang sukses menjemput bola emas yang digulirkan di era reformasi dengan mengalirkan nurani rakyat serta menghembuskan nafas segar di seluruh nusantara. Pilar ini mampu mengangkat semua yang terpuruk dan menjadikannya sebuah energi baru dalam semua sendi kehidupan bermasyarakat. Mahasiswa pun mendapat sambutan hangat dan simpati dari seluruh rakyat, dan bangsa ini pun masuk tercatat dalam sederetan bangsa-bangsa yang maju dan beradab di era reformasi.

Akan tetapi, jeda yang dialami dalam menikmati hasil perjuangannya belum tuntas, keburu pil pahit di telannya. Nilai setitik, rusak susu sebelanga; Panas setahun dihapuskan hujan sehari, atau siapa makan nangka, yang lain kena getahnya. Mungkin ungkapan-ungkapan ini bisa dialamatkan kepada pilar ini, dengan asumsi bahwa ditengah rimbunnya gerakan sosial mahasiswa, ada sekian mahasiswa yang terhanyut dalam layanan NARKOBA (Narkotika, dan Obat Terlarang). Apakah yang terlarut dalam larutan NAKOBA adalah betul-betul mahasiswa dengan identitas KPM (Kartu Pengenal Mahsiswa) yang jelas, atau mahasiswa gadungan yang demi kepentingan politik tertentu, menyangkut popularitas institusi pendidikan, kelompok (komunitas) dan individu sebagai insan kampus. Pada level ini sulit untuk diprediksi siapa mahasiswa yang sebenar terlibat dalam skandal NARKOBA ini.

Ketika popularitas dan akreditasi institusi tertentu yang unggul, kadang membuat pihak lain kebakaran jenggot untuk terlibat dalam proses pemberian label atau Stigma "Mahasiswa NARKOBA". Belum lagi, ketika proyeksi dan promosi untuk mendapatkan pangkat atau jabatan baru pada institusi tertentu, maka skenario penangkapan "Mahasiswa Narkoba" pun dilakukan, dan skandal lainnya. Walaupun, diakui bahwa satu dari antara sekian yang terlibat dalam gerakan-gerakan moral mahasiwa itu sebagai pemilik, penadah, pengedar atau pemakai. Sulit untuk kita pungkir bahwa hal ini benar terjadi. Tetapi, apakah ini menjadi ukuran untuk memberi label "Mahasiswa NARKOBA"?

Di manakah posisi mahasiswa dalam klasifikasi strata Narkoba dewasa ini? Apakah sebagai pengedar, pemakai, pemilik, atau penadah. Di satu pihak, mahasiswa tidak bekerja. Ia sepenuhnya hidup dari keringat orang tua, saudara, orang lain, atau orang tua asuh yang setiap saat menggajinya ala seorang pegawai negeri atau pegawai swasta. Di pihak lain, mahasiswa juga tidak memegang lesensi terhadap penyuplai biaya hidup selama berpredikat sebagai mahasiwa, sehingga kadang-kadang mencoba-coba segala sesuatu termasuk "NARKOBA". Mahasiswa bukanlah apa-apa, dia hanya bagian dari kehidupan sosial yang tergabung dalam kumpulan anak-anak terdidik dari berbagai golongan pendapatan orang tua yang berbeda. Posisi mahasiswa belum bisa ditentukan dan tidak tahu kapan akan berakhir, karena mereka belum memasuki kehidupan ekonomi yang sesungguhnya sebagai proses akhir dari belajar.

Kedudukan yang mengambang itu membuat mahasiswa menjadi sasaran empuk bagi semua pihak yang memiliki kepentingan dengan penyedia jasa layanan NARKOBA, baik sebagai pemilik, penadah, pengedar atau pemakai. Beragam pendapat yang akan muncul bila melihat kehidupan kaum terpelajar seperti ini.

Pilar mahasiswa yang getol mengkritisi berbagai fenomena yang timbul disekitarnya, kadang-kadang terbuai oleh penyedia jasa layanan NARKOBA. Organisasi mahasiswa ini sering impoten ketika berurusan dengan persoalan-persoalan seperti ini. Ketika bergerak maju, berhadapan dengan sesama aktivis mahasiswa, ketika bergerak mundur berhadapan dengan sesama aktivis dan masyarakat. Harus diakui bahwa dunia kampus bukanlah sebuah industri jasa yang menyediakan mahasiswanya sebagai pemilik, penadah, pengedar atau pemakai, namun rantai layanan NARKOBA ini telah masuk dan merajut dalam sendi-sendi pendidikan.

Pada tataran kondisi yang redup ini? Kaum intelektual sedang dimana? apakah yang dapat diperbuat sebagai bemper terdepan di era reformasi ini? Pilar mahasiswa harus mengkritisi tanpa ampun sikap tiap pribadi mahasiswa yang enggan menggabungkan diri dengan gerakannya lagi. Pilar mahasiswa harus menggunakan segala macam cara yang dikuasainya untuk memohon pengertian atau mengungkapkan peringatan-peringatan keras-lunak, tajam-lembut, agar pemahaman itu dapat menancap dalam-dalam di kepala dan hati mahasiswa bahwa hanya ada satu tekad "Berantas NARKOBA".

Pilar mahasiswa harus sanggup mengangkat semua persoalan menyangkut kepentingan rakyat secara umum dan harus terus diperkenalkan kepada kelompok mahasiswa di dalam kampus. Mahasiswa juga haruslah menjadi kelompok yang terdepan mempropagandakan dan melancarkan aksi-aksi massa pada setiap kesempatan, walau sekecil apapun, yang dapat dipergunakan untuk menunjukkan watak sejati dalam membendung bandar-bandar NARKOBA. Dan harus pula menjadi yang pertama untuk mempromosikan bahwa "Kampus Bebas Narkoba" kepada gerakan mahasiswa di kampus-kampus lain, dan mendorong terbentuknya satu penyatuan konsep di tingkatan yang lebih luas. Singkat kata, mahasiswa haruslah menjadi pelopor sejati dalam memberantas NARKOBA, dan bukan hanya sebagai penonton tanda kutip: "pemilik, penadah, pengedar atau pemakai".

Label:

PENGEMBANGAN KETERAMPILAN SOSIAL SISWA



Sebagaimana telah dideskripsikan Departemen Pendidikan Nasional (2004) dalam "Kurikulum Sosiologi tahun 2004", bahwa pembelajaran Sosiologi berperan sebagai wahana pengembangan kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pemahamannya terhadap fenomena kehidupan sehari-hari. Sebagai wahana pengembangan kemampuan siswa, materi pelajaran mencakup konsep-konsep dasar, pendekatan, metode, dan teknik analisis dalam pengkajian berbagai fenomena dan permasalahan yang ditemui dalam kehidupan nyata hidup bermasyarakat. Materi tersebut sekaligus menjadi pengantar bagi siswa-siswa yang berminat mendalami Sosiologi lebih lanjut.

Malik Fajar (1988 : 67) menyebutkan, bahwa kegiatan pendidikan adalah kegiatan pembelajaran. Betapa pun baiknya konstruksi filsafat pendidikan, tetapi jika tidak ditindaklanjuti dengan kegiatan pembelajaran yang baik, pendidikan dapat dikatakan telah mengalami kegagalan semenjak proses yang paling awal.

Jadi, kegiatan pembelajaran dari setiap mata pelajaran, termasuk Sosiologi, sangat penting peranannya. Aspek-aspek pembelajaran Sosiologi mencakup aspek-aspek kognisi, afeksi, dan keterampilan. Menurut Bloom (dalam Mulyono, 1985 : 15), aspek keterampilan yang harus diajarkan melalui pembelajaran Sosiologi adalah "keterampilan berfikir, keterampilan akademis, keterampilan sosial, dan keterampilan meneliti".

Berkaitan dengan keterampilan sosial, maka tujuan pengembangan keterampilan sosial dalam mata pelajaran Sosiologi adalah agar siswa mampu berinteraksi dengan teman-temannya sehingga mampu menyelesaikan tugas bersama, dan hasil yang dicapai akan dirasakan kebaikannya oleh semua anggota masing-masing.

Hal ini selaras dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang sangat dipengaruhi oleh masyarakatnya, baik kepribadian individualnya, termasuk daya rasionalnya, reaksi emosionalnya, aktivitas dan kreativitasnya, dan lain sebagainya dipengaruhi oleh kelompok tempat hidupnya (Sumaatmadja, 1986 : 29).

Dengan demikian, pengembangan nilai-nilai dan keterampilan sosial harus menjadi salah satu tujuan pendidikan di tingkat menengah umum, khususnya SMA (Sekolah Menengah Atas).

Inti permasalahan yang telah diuraikan di atas adalah model pembelajaran yang kurang efektif merupakan salah satu penyebab rendahnya keterampilan sosial pada siswa. Untuk itu perlu dicari suatu inovasi model pembelajaran yang paling efektif, sehingga mampu mengembangkan keterampilan sosial siswa.

Sebagai salah satu mata pelajaran dii tingkat pendidikan menengah umum (baca : SMA), Sosiologi berfungsi untuk meningkatkan kemampuan berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dalam keragaman realitas sosial dan budaya berdasarkan etika. Guna mengejawantahkan fungsi mata pelajaran ini, maka keterampilan sosial siswa harus dikembangkan secara optimal, sehingga pada gilirannya siswa memperoleh kecakapan hidup (life skills) yang bermanfaat bagi kehidupannya kini dan masa depannya kelak.

Berbagai ahli seperti Raven (1977 : 156), Bell (1966 : 112), McConnell (1952 :4), dan Conant (1950 : 74) telah menyebutkan, bahwa salah satu tujuan pendidikan menengah umum adalah untuk mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan sosial.

Nilai-nilai sosial sangat penting bagi anak didik, karena berfungsi sebagai acuan bertingkah laku terhadap sesamanya, sehingga dapat diterima di masyarakat. Nilai-nilai itu antara lain, seperti kasih sayang, tanggung jawab, dan keserasian hidup.

Adapun keterampilan sosial mempunyai fungsi sebagai sarana untuk memperoleh hubungan yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain; contoh : melakukan penyelamatan lingkungan, membantu orang lain, kerja sama, mengambil keputusan, berkomunikasi, wirausaha, dan partisipasi.

Pengembangan nilai-nilai dan keterampilan sosial tersebut merupakan hal yang harus dicapai oleh pendidikan menengah umum. Hal itu karena anak didik merupakan makhluk sosial yang akan hidup di masyarakat.

Jadi, pengembangan nilai-nilai dan keterampilan sosial amat penting dalam pendidikan menengah umum. Namun, secara praksis, hal tersebut cenderung diabaikan, sebagaimana beberapa penelitian membuktikannya, bahwa :
1. Terdapat kecenderungan mengabaikan pembinaan nilai-nilai sosial dalam pendidikan, sehingga mengakibatkan eraosi nilai-nilai dan keterampilan sosial;
2. Mata pelajaran Sosiologi berkontribusi terhadap tanggung jawab sosial siswa (rasa memiliki, disiplin, tolong menolong, dan toleransi);
3. Model pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepribadian sosial anak didik. Kepribadian sosial tidak cukup hanya diberikan dengan metode ceramah dan diskusi di kelas, melainkan dengan terjun langsung di masyarakat mengklarifikasi dan menghadapi kenyataan sosial, dapat membentuk kepribadian yang matang;
4. Model pembelajaran Sosiologi kurang berorientasi kepada pengembangan nilai-nilai dan keterampilan sosial. Dengan demikian, nilai-nilai dan keterampilan tersebut kurang dimiliki siswa, seperti kurang dalam hal kepedulian, kesetiaan, pengabdian, disiplin, empati, toleransi, mengatasi masalah, berkomunikasi, tanggung jawab, dan partisipasi terhadap sosial.

Keterampilan sosial yang perlu dimiliki siswa, menurut John Jarolimek (1993 : 9), mencakup :
1. Living and working together; taking turns; respecting the rights of others; being socially sensitive
2. Learning self-control and self-direction
3. Sharing ideas and experience with others

Dari pernyataan Jarolimek di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan sosial itu memuat aspek-aspek keterampilan untuk hidup dan bekerjasama; keterampilan untuk mengontrol diri dan orang lain; keterampilan untuk saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya; saling bertukar pikiran dan pengalaman sehingga tercipta suasana yang menyenangkan bagi setiap anggota dari kelompok tersebut.

Keterampilan sosial siswa SMA sangat perlu dikembangkan, karena siswa SMA masih pada usia mencari jati diri dan pada saat itu adalah masa merindu-puja (masa membutuhkan teman), sehingga perlu bimbingan dengan ajaran yang memiliki landasan yang benar.

Keterampilan sosial yang sangat penting dalam pembelajaran Sosiologi ini ternyata secara empirik di lapangan sangat jarang dilakukan oleh guru; padahal guru sering menggunakan metode pendekatan kerja kelompok. Kenyataan ini dipicu oleh ketidakmengertian guru Sosiologi terhadap tujuan IPS pada umumnya dan pembelajaran Sosiologi pada khususnya.

Banyak metode yang dapat digunakan guru Sosiologi untuk dapat mengembangkan keterampilan sosial siswa, menurut Prayitno (1980 : 37), di antaranya yaitu :
1. Diskusi kelompok : diskusi kelompok besar/kecil; diskusi panel;
2. Simposium; ceramah forum; percakapan forum; seminar;
3. Role playing (permainan peranan) atau sosiodrama;
4. Fish bowl
5. Brainstorming
6. Problem solving dan inquiry
7. Metode proyek
8. Buzz Group
9. Tutorial
10. Dll.

Sementara itu, cara-cara berketerampilan sosial yang dapat dikembangkan kepada siswa adalah sebagai berikut :
1. Membuat rencana dengan orang lain;
2. Partisipasi dalam usaha meneliti sesuatu;
3. Partisipasi produktif dalam diskusi kelompok;
4. Menjawab secara sopan pertanyaan orang lain;
5. Memimpin diskusi kelompok;
6. Bertindak secara bertanggung jawab; dan
7. Menolong orang lain.

Seorang siswa dikatakan mampu berketerampilan sosial tatkala ia dapat berkomunikasi dengan baik sesuai aturan (tatacara) dengan sesamanya di dalam sebuah kelompok. Jadi, sarana kelompok (wadah) untuk berkomunikasi merupakan syarat yang harus ada di dalam memroses keterampilan sosial siswa.

Kelompok yang produktif adalah kelompok yang kaya dengan pencapaian tujuan kelompok dan kaya dengan pemberian sumbangan terhadap kebutuhan anggota-anggotanya. Produktivitas kelompok sangat dipengaruhi oleh semangat kerja kelompok, kebersamaan serta kepemimpinan dalam kelompok.

Kerjasama yang baik, yang seimbang antar individu-individu dalam suatu kelompok demokratis tidak ada dengan sendirinya saja, melainkan harus dipelajari. Maka untuk berusaha supaya dalam kelompok demokratis terdapat kerjasama yang efektif, berhasil baik, terdapat beberapa prinsip dinamika kelompok yang merupakan syarat dari produktivitas kelompok, yaitu :
1. Suasana (atmosphere);
2. Rasa aman (threat reduction);
3. Kepemimpinan bergilir (distributive leadership);
4. Perumusan tujuan (goal formulation);
5. Fleksibilitas (flexibility);
6. Mufakat (consensus);
7. Kesadaran kelompok (process awareness); dan
8. Evaluasi yang terus menerus (continual evaluation)

Berdasarkan uraian di atas, dapatlah disimpulkan, agar keterampilan sosial siswa dapat berkembang dengan baik dalam mata pelajaran Sosiologi, maka hal itu tergantung pada :
1. Interaksi atau individu dalam suatu kelompok, yaitu bisa terlaksana apabila individu dalam kelompok telah dibekali dengan berbagai keterampilan sosial di mana salah satunya adalah : cara berbicara, cara mendengar, cara memberi pertolongan, dan lain sebagainya; serta
2. Suasana dalam suatu kelompok, yaitu suasana kerja dalam kelompok itu hendaknya memberi kesan semua anggota, bahwa mereka dianggap setaraf (equal), khususnya dalam pengembangan keterampilan sosial.

Label:

Sebuah Refleksi Pendidikan Untuk Masa Depan

Sengaja tulisan ini dibuat untuk sekedar urun rembuk dalam rangka menyambut peringatan hari pendidikan nasional 2 Mei 2005. Hari dimana 116 tahun yang lalu lahir seorang tokoh yang kemudian segenap hidupnya dicurahkan untuk kepentingan pendidikan anak bangsa walau harus menerima resiko merasakan kerasnya penjara kolonial Belanda. Dia pernah membuat Belanda marah dengan tulisanya yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was. Dia adalah Ki Hajar Dewantara, anak Keraton yang tidak mau memakai embel-embel Raden di depan namanya. Ia menangis dan kemudian bergerak ketika melihat anak bangsa tidak bisa sekolah karena sekolah yang dibuat Belanda sangat diskriminatif dan cenderung hanya untuk orang-orang kaya. Ki Hajar Dewantara kemudian mendirikan sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah untuk semua anak bangsa. Di sekolah inilah karakter kebangsaan anak bangsa di bentuk untuk masa depan bangsanya, sebuah kemerdekaan. Inilah salah satu titik penting, betapa pendidikan merupakan wahana yang paling strategis untuk membangun masa depan bangsa sebagaimana yang dicontohkan Ki Hajar Dewantara.

Kini, ketika kemerdekaan bangsa sudah lebih dari 59 tahun, persoalan pendidikan di Indonesia masih menghadapi banyak masalah dan bahkan mengalami keterpurukan. Banyak para ahli pendidikan mengemukakan bahwa keterpurukan bangsa Indonesia hari ini adalah akibat langsung maupun tidak langsung dari kesalahan kebijakan pemerintah Orde Baru(1966-1998) yang tidak peduli pada pendidikan, misalnya untuk sektor pendidikan hanya dianggarkan 7 % saja dari APBN ( Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), padahal Malaysia dan Thailand pada waktu itu sudah menganggarkan lebih dari 20 % untuk pendidikan dari APBN nya. Persoalan anggaran ini meski tidak menjadi satu-satunya faktor tetapi keberadaanya memiliki dampak yang sangat besar bagi kemajuan bangsa.

Setelah runtuhnya rezim Orde Baru, dan kini Indonesia berada pada masa demokrasi yang mulai maju, berbagai masalah masih terus menghantui dunia pendidikan di Indonesia. Seperti yang dilaporkan Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berkantor pusat di Hongkong, mengumumkan hasil surveinya tentang penilaian mengenai kualitas pendidikan di kawasan Asia yang menempatkan Indonesia sebagai negara yang pendidikanya terburuk di kawasan Asia dan bahkan satu tingkat di bawah Vietnam. Selain itu kualitas sumber daya manusia Indonesia juga rendah sebagaimana dijabarkan dalam Human Development Index (HDI) pada tahun 2004 lalu. Pada saat ini Indonesia menduduki peringkat 110 dari 173 negara, terburuk di Asia Tenggara. Variable yang digunakan dalam penghitungan HDI mencakup tiga bidang strategis pembangunan yaitu: pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Lalu, bagaimana kita mensikapi fenomena keterpurukan bangsa kita di atas? Sulit memang untuk merubah masalah bangsa yang jumlah penduduknya lebih dari 210 juta jiwa. Padahal kedepan bangsa kita akan menghadapi tantangan yang cukup berat, menyangkut kehidupan bangsa Indonesia secara nasional dan dalam kehidupan global diantara bangsa-bangsa di dunia.

Kunci utama bagi suksesnya pendidikan untuk masa depan bangsa adalah sejauhmana kita tetap optimis menatap masa depan, tanpa harus kehilangan rasionalitas kita untuk selalu mengoreksi diri dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Secercah optimisme kini sudah mulai nampak, misalnya bisa dilihat dari jumlah anggaran pendidikan yang akan dinaikan menjadi 20 % dari APBN. Tidak tangggung-tanggung kenaikan anggaraan pendidikan ini tertuang dalam amandemen UUD 1945. Meski hingga saat ini realisasinya masih belum nampak, tetapi optimisme akan terwujudnya amanah UUD 1945 itu harus terus dijaga. Apalagi kini bangsa kita menjadi bangsa yang Demokratis di mata dunia Internasional (setelah pemilu 2004 menjadi negera demokrasi terbesar setelah Amerika dan India), dan ini menjadi modal penting bagi identitas kemajuan sebuah bangsa.

Optimisme saja memang tidak cukup kalau tidak diikuti dengan langkah-langkah konkrit. Lalu, langkah konkrit apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita untuk masa depan ? Tentu jawabanya amat sangat banyak, tetapi penulis coba menjawabnya secara sederhana saja. Beberapa jawaban sederhana dibawah ini bisa juga sebagai refleksi untuk sama- sama kita renungkan.

Pertama, pendidikan itu tanggungjawab semua warga negara, bukan hanya tanggungjawab sekolah. Konsekuensinya semua warga negara memiliki kewajiban moral untuk menyelamatkan pendidikan. Sehingga diandaikan ada warga negara yang tidak bisa sekolah hanya karena tidak punya uang, maka warga negara yang kaya atau tergolong sejahtera memiliki kewajiban moral untuk menjadi orang tua asuh bagi kelangsungan sekolah anak yang tidak beruntung itu. ( ingat ! akibat krisis yang berkepanjangan, jumlah anak putus sekolah pada tahun ini mencapai puluhan juta anak di seluruh Indonesia).

Kedua, penulis meyakini paradigma yang mengatakan bahwa "pendidikan itu dimulai dari keluarga". Paradigma ini penting untuk dimiliki oleh seluruh orang tua untuk membentuk karakter manusia masa depan bangsa ini. Keluarga adalah lingkungan yang paling pertama dan utama dirasakan oleh seorang anak, bahkan sejak masih dalam kandungan. Karena itu pendidikan di keluarga yang mencerahkan dan mampu membentuk karakter anak yang soleh dan kreatif adalah modal penting bagi kesuksesan anak di masa-masa selanjutnya.

Ketiga, kurikulum pendidikan, metodologi pengajaran, sitem evaluasi dan kesejahteraan guru, juga adalah hal penting yang harus terus di perbaiki. Masalah kurikulum misalnya bisa dicermati dari padatnya kurikulum atau terlalu banyaknya pelajaran juga menjadi persoalan tersendiri yang seringkali menghambat kreatifitas guru mapun siswa. Penulis sebetulnya lebih setuju jika sekolah menerapkan sitem SKS ( Sistem Kredit Semester), dimana siswa diberikan kebebasan memilih mata pelajaran wajib dan pilihan dan ada ketentuan batas minimal jumlah kredit yang harus diselesaikan sehingga dinyatakan lulus suatu jenjang pendidikan tertentu.(khususnya untuk tingkat SMP dan SMA). Apalagi jika sistem SKS ini dipadukan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), mungkin akan lebih membuat siswa menikmati belajar. Masalah metodologi pengajaran juga perlu terus dikembangkan ( ini kewajiban guru). Sementara masalah sistem evaluasi juga perlu terus diperbaiki, seperti misalnya masalah Ujian Nasional yang hingga kini masih dipermasalahkan. Dan masalah kesejahteraan guru, ini juga perlu di cermati. Sebab, bagaimana mungkin guru akan asyik mengajar sementara urusan kesejahteraannya bermasalah. Atau bagaimana mungkin guru mengajar tidak gagap tehnologi dan informasi, sementara ia tidak punya uang untuk beli majalah, jurnal, buku-buku baru, apalagi beli komputer yang bisa akses dengan mudah ke internet!?. Karena itu kesejahteraan guru juga harus diperhatikan.

Keempat, untuk meningkatkan kualitas pendidikan demi masa depan diperlukan juga ketegasan untuk menegakkan aturan-aturan maen pendidikan yang konsisten dan konsekuen. Sekolah seringkali tidak menghargai siswa yang belajar sungguh-sungguh, buktinya ada banyak siswa yang enggak belajar, malas-malasan, nilainya selalu merah, tapi naik kelas juga?! Pokoknya 100% selalu naik kelas. Ini kan sama artinya tidak menghargai anak yang sungguh-sungguh belajar. Sebab yang santai-santai saja pasti naik kelas. Dan juga sekaligus tidak mendidik anak untuk belajar menghadapi resiko. Karena itu jangan heran jika mental manusia Indonesia cenderung enggak berani mengambil resiko, karena di sekolah tidak diajarkan untuk menghadapi resiko.?

Kelima, pendidikan itu tidak hanya untuk mencerdaskan anak dalam satu kategori kecerdasan, misalnya hanya kecerdasan intelektual (IQ) tetapi juga untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasan lainya. Seperti kecerdasan spiritual (SQ), kecerdasan rasa (EQ), dan kecerdasan ketahanmalangan (AQ), dan sebagainya. Atau para ahli psikologi menyebutnya sebagai Multiple Intelligence. Sebab, salah satu penyebab bangsa kita berlarut-larut dalam krisis juga karena bangsa kita miskin SQ atau tepatnya miskin ahlak. Karena itu hal-hal yang sifatnya spiritual juga menjadi sesuatu yang penting untuk terus di jaga dan dikembangkan melalui pendidikan. Termasuk juga membentuk semangat team work, pluralism, dan optimistik perlu dikembangkan di sekolah, misalnya bisa melalui kegiatan ekstrakurikuler, OSIS, dan kegiatan keagamaan. Itulah sebabnya Ki Hajar Dewantara sejak awal mendirikan sekolah Taman Siswa juga mengedepankan pendidikan yang memekarkan rasa.

Label:

Pendidikan nilai

Tahun-tahun terakhir ini pelajar kita selalu membanggakan dalam setiap Olimpiade fisika Internatsional, baru-baru ini dua pelajar meraih penilaian tertinggi dan meraih dua emas dalam olimpiade Fisika di salamanca. Menurut informasi yang saya dapat pelajar kita secara individual sangat hebat (intelektual) artinya tidak kalah dari bangsa maju lainnya.

Tetapi apakah mereka yang secara intelektual pintar, apakah hatinya juga pintar??. Sekolah kita banyak sekolah menekan segi kognitif dari pada segi afeksi. Guru hanya mengejar target instruksional saja sementara target jangka panjang yaitu nilai-nilai apa saja yang ditanamkan pada siswa agar ia dapat hidup terabaikan.

Saya sangat resah melihat,mendengar berita-berita di media betapa korupsi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangsa ini, orang-orang yang dulu saya anggap bersih ternyata terjerat dalam "budaya korupsi" lalu saya mulai berpikir apa yang salah pada bangsa ini? sistem pendidikan kah?.

Masih banyak dalam PILKADA diwarnai dengan adu otot bukan adu otak, mereka memaksakan kehendak pada segolongan orang lain, tak adakah jalan yang lebih baik? Penerimaan murid baru banyak sekali diwarnai pungutan-pungutan liar dan memaksakan penjualan buku dengan dalih apapun yang seolah-olah dibuat mengutungkan siswa, di mana letak hatimu guru?.

Pendidikan nilai menjadi keharusan bagi sekolah untuk mulai diterapkan.Pendidkan nilai (kejujuran, disiplin,saling menghargai,cinta lingkungan,daya juang, bersyukur, gender dan lain-lain) bukan merupakan tanggung jawab guru agama dan kewarganegaraan saja tetapi tanggung jawab semua guru.

Dalam silabus guru mencantumkan nilai-nilai apasaja yang akan ditekankan dalam setiap materi pengajaran. Sebetulnya didalam Kurikulum pemerintah pendidikan nilai secara implisit sudah ada. Nilai-nilai yang ditekankan merupakan dampak pengiring di samping guru menekan dampak instruksional. Misalkan bagaimana guru menekankan nilai kejujuran pada siswa, yaitu bisa dengan berbagai cara, bisa saja guru memakai metode praktikum, yaitu siswa diharuskan jujur dalam menyampaikan data yang diperoleh dan beri nilai berbuat jujur.

Dalam keseharian guru harus menunjukkan sikap jujur, ini penting karena guru sebagai model. Dalam diskusi juga ditekakan bagaimana siswa menghargai pendapat orang lain dengan tidak terlalu awal melakukan pada penilaian pada pendapat orang lain, dan yang penting lagi guru melakukan pembelajaran reflektif, melihat kembali apasaja yang sudah dilakukan oleh siswa dan guru bukan hanya kognitif saja tetapi juga afeksi. Mudah-mudah kita dapat melahirkan generasi yang tidak korup, menghargai orang lain, memiliki disiplin tinggi, hormat, memiliki daya juang, bangga berbangsa indonesia dan lain-lain.

Label:

pendidikan bermoral dan tayangan bermoral

Judul: pendidikan bermoral dan tayangan bermoral
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): husamah
Saya Mahasiswa di Universitas muhammadiyah malang
Topik: pendidikan yang bermoral
Tanggal: 27 januari 2006

Pendidikan Bermoral dan Tayangan Bermoral
Oleh: Husamah*

Laporan mengenai revolusi seks remaja (Koran Pendidikan/12-18/2005) mungkin akan membuat kita tersadar akan realita dunia pendikan kita dewasa ini, apalagi jika merenungkan data-data yang dimuat. Tindakan memalukan yang dilakukan oleh sebelas pelajar SMA Negeri II Cianjur tersebut bukanlah semata-mata perkelahian atau adu mulut seperti yang biasa dilakukan oleh para siswa melainkan adegan "pamali" seks yang terjadi didalam ruang kelas. Ironisnya, sesuai dengan pengakuan pelaku dan beberapa saksi, tindakan tersebut telah dilakukan sejak lama.Yang lebih menyakitkan lagi setelah diketahui bahwa ternyata seorang guru terlibat kegiatan seks bebas bersama mereka. Guru yang berinisial DS, pengajar Biologi ayah tiga orang anak tersebut sempat pula "mencicipi" muridnya sebelum menawarakannya kepada lelaki hidung belang. Sebelumnya juga Kabupaten Mojokerto dihebohkan pula dengan kasus foto telanjang siswa kelas III sebuah SMU Negeri

Kisah memalukan sekaligus memilukan tersebut sebenarnya buka rahasia lagi jika kita mau jujur. Lihat saja hasil riset Synote (2004) yang menunjukkan bahwa di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, dari 450 responden, 44% mengaku berhubungan seks pertama kali pada usia 16-18 tahun. Bahkan ada 16 responden yang mengenal seks sejak umur 13-15 tahun. Sebanyak 40% responden melakukan seks di rumah, 26 % dikos, dan 20% lainnya di hotel. Hasil survey ini seakan menjustifikasi Survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap 2.880 remaja usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat pada tahun 2002, yang ternyata juga menunjukkan angka yang menyedihkan. Didapatkan data bahwa 39,65% dari mereka mengaku pernah berhubungan seks sebelum nikah.

Mengamati fenomena sosial tersebut, hati nurani kita akan tergerak untuk -paling tidak-mencermati dua hal sesuai dengan pandangan Sudarwan Danim (2003). Pertama, gejala tereduksinya moral dan nurani sebagian SDM anak bangsa, dengan bukti empirik kasus diatas. Kedua, arus masuk generasi muda ke lembaga pendidikan setiap jenjang sebagai sebagai bagian dari dikursus pengembangan SDM Indonesia seutuhnya. Kedua hal tersebut sangat erat sekali kaitannya dimana realitanya orang sekolah diidealisasikan sebagai orang terdidik dan memiliki persyaratan yang khas, misalnya jika dibandingkan dengan tukang becak, penarik delman, tukang cangkul, dan sebagainya.

Pendidikan sejatinya merupakan proses pembentukan moral bagi manusia yang beradab, manusia yang maju dan tampil dengan aura kemanusiaan. Pendidikan idealnya memfokuskan diri sebagai pembentuk nalar emosional dan afeksi. Sayangnya pendidikan kita sekarang tidak lebih dari sekedar sekolah dengan berbagai mata pelajaran yang harus ditempuhanak didik. Hasilnya, produk pendidikan tidak lebih dari menghasilkan masyarakat yang mengklaim sebagai masyarakat modern. Realitanya distrosi perilaku dan pelanggaran moral terus berlanjut. Gejala abnormalitas sebagian anak didik saat ini tidak lagi sebatas kenakalan remaja, dan tawuran, melainkan juga sudah merambah keaksi mogok belajar, pengompasan, asusila, narkoba dan sebagainya.

Para analis cenderung melihat fenomena buruk ini bersumber dari kegagalan pendidikan moral dan budi pekerti atau kegagalan sekolah dalam memanusiawikan anak. Adapula yang melabelinya sebagai aksentuasi kekeliruan sekolah yang lebih mengutamakan pengajaran intelektual daripada pendidikan dalam makna yang luas, dimana proses pendidikan cenderung bersifat drill dan rote learning, bukan dalam format pembelajaran yang humanistic sejati.

Schoorl (1982) berpendapat bahwa praktik-praktik pendidikan merupakan wahana terbaik dalam menyiapkan SDM dengan derajat moralitas tinggi. Di Indonesia, UU RI No.2 tahun 1989, Pasal 4, dengan jelas memuat tujuan pendidikan nasional dimana pendidikan nasional idealnya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. Ditegaskan pula bahwa harus dicapai pengetahuan dan keterampilan, kepribadia mantap dan mandiri, serta tanggung jawab kemanusiaan dan kebangsaan.

Jika diidealisasi itu menjadi relita maka anak didik memiliki SDM yang terampil, berada pada posisi terdepan, serta memiliki moralitas yang tinggi. Sayangnya para remaja kita sekarang seakan tersesat ke sebuah zaman baru, zaman siluman. Telah terjadi sebuah revolusi yang membuat orang cenderung mengumbar nafsu. Hal ini juga didukung dengan perubahan pandangan manyarakat sekarang dimana telah meminggirkan "tabu" atau malah menguburnya. Revolusi seks yang mencuat di Amerika Serikat dan Eropa pada Akhir Tahun 1960-an seolah sudah merambah ke "sini" melalui piranti teknologi informasi, dan sarana hiburan yang makin canggih.

Lalu apakah pola pendidikan moral kita yang salah? Rasanya tidak adil jika kesalahan hanya semata-mata ditimpakan kepada pendidik dalam menyampaikan materi moral yang hanya beberapa jam di sekolah sementara sebagian besar waktu siswa dihabiskan di luar sekolah. Wacana semacam ini perlu kita munculkan setidaknya sebagai penengah terhadap ketegangan konsep kerusakan moral ini.

Tayangan vulgar pada layar kaca adalah contoh dari ribuan bahkan jutaan realita kegundahan kita. Hal ini tentunya sejalan dengan gejala dehumanisasi, demoralisasi dan dekulturalisasi pada diri anak-anak remaja. Sebagian besar dari film dan sinema electron (sinetron) yang menjadi konsumsi masyarakat pun masih berkutat di seputar "objek rekreasi" vulgar tersebut dengan kosa kata yang sangat mudah ditebak. Kita sering menyaksikan iklan yang justru lebih menonjolkan adegan "selera rendah" berupa dua pasangan yang berciuman, berpelukan, dan hanya sedikit menonjolkan produk yang ditwarkan. Maka jadilah remaja kita tergiring pada tindakan "selera rendah" pula. Jadilah usia kronologis anak kita ketinggalan dengan usia emosionalnya yang akhirnya berporos pada aneka bentuk penyimpangan moral semakin sering kita saksikan dan dikeluhkan akhir-akhir ini.

Dengan demikian perlu kiranya penataan manajemen pertelivisian kita, terutama televisi swasta. Tayangan televisi yang bermutu tentunya akan mendukung perbaikan mental remaja karena kenyataannya masyarakat terutama remaja kita memiliki keterikatan yang besar dengan televisi. Hasil penelitian Dr. Anggadewi Moesosno (1996) membuktikan bahwa mamfaat telivisi sebagai sarana perluasan wawasan, pembentukan nilai moral dan rasa estetika lebih tinggi pada remaja bersekolah, sedangkan belajar memecahkan masalah lebih tinggi pada remaja putus sekolah. Setidaknya ada konklusi bahwa sebagai media yang bernilai hiburan, informative, pencerdasan, komersial dan sebagainya, tayangan program televisi akan sangat memberikan dampak yang besar bagi remaja. Dampak ini tentu saja bisa baik dan tidak ada jaminanpun untuk tidak buruk.

Label: